Minggu, 01 November 2020

SYUKUR & ISTIGHFAR..



Baroqah.com. Popayato. Surah terakhir yang Allah turunkan kepada Rasulullah SAW adalah surah an-Nashr. Surah tersebut diturunkan di Madinah. Jumlahnya tiga ayat. Surah ke- 110 ini diturunkan saat Rasulullah SAW sedang melakukan haji wada bersama kaum Muslimin.

Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur'an jilid 13, Sayyid Quthb mengemukakan, di samping meng arahkan Nabi SAW saat terwujudnya pertolongan Allah (ayat 1), kemenangan dan masuknya manusia ke dalam agama-Nya secara ber bondong-bondong (ayat 2), agar Nabi SAW menghadapkan diri kepada Tuhannya dengan bertasbih, menyampaikan pujian, dan ber istighfar (ayat 3).

"Sesungguhnya peran Nabi dan para sahabatnya adalah menghadapkan diri kepada Allah dengan melakukan tasbih, pujian, dan istighfar pada saat kemenangan." (Hlm 659). Berkaca pada QS an-Nashr, setiap meraih keberhasilan, kita tak hanya disuruh bersyukur kepada Allah dengan bertasbih dan bertah mid, tetapi juga memperbanyak istighfar, memohon ampun kepada Allah.

Bersyukur dengan ucapan dan perbuatan: memperbanyak zikir, membaca Alquran, sedekah, berbuat baik kepada orang lain, dan lain-lain. Memperbanyak membaca istighfar setelah shalat fardhu dan sunah, maupun pada waktu-waktu yang lain (di rumah, di kantor, di majelis zikir, dalam perjalanan dan lain-lain). Rasulullah mengucapkan istighfar 70 kali dalam sehari semalam (HR Bu khari). Dalam hadis riwayat Imam Muslim, bahkan 100 kali.

Dalam Tafsir Tazkiyah Dr Attabik Luthfi MA (hlm 68-69) disebutkan, dalam Alquran, perintah beristighfar selalu berdampingan dengan perintah beribadah kepada Allah. Mengutip Prof Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, "Tobat merupakan penyem purna dari istighfar seseorang agar diterima oleh-oleh Allah SWT."

Attabik Luthfi mengemukakan, berdasarkan kajian terhadap ayat-ayat yang berbicara tentang istighfar, paling tidak terdapat empat keuta maan dan nilai-nilai amaliah istighfar dalam kehidupan seorang Muslim. Pertama, istighfar merupakan cermin kesadaran diri orang-orang yang bertakwa (QS Ali Imran: 135).



Kedua, istighfar merupakan sumber kekuatan umat. Rasul mengatakan, eksistensi umat dari kesadarannya untuk selalu beristighfar (QS Hud: 52). Ketiga, istighfar dapat menolak bencana dan menjadi salah satu sarana turunnya keberkahan dan rahmat Allah SWT (QS al-Anfal: 33).

Keempat, istighfar memudahkan urusan dan membukakan pintu rezeki dari arah yang tidak diduga-duga. Semoga Allah jadikan kita hamba-hamba- Nya yang selalu pandai bersyukur dan beristighfar.

(dikutip republika.co.id)

Rabu, 14 Oktober 2020

Tolak OMNIBUS LAW.!!

 



BaroqahNews.Com..POPAYATO. Sebuah Kemenangan yang disambut demo besar-besaran di berbagai kota dan kawasan Industri. Semua argumentasi anggota DPR, pejabat pemerintah & pebisnis tentang kehebatan OMNIBUS LAW tak di gubris, ini karena OMNIBUS LAW diyakini secara umum sebagai hasil Konspirasi para pebisnis Radikal baik yang di dalam lingkaran garis kekuasaan maupun yang di luar. 

Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa 262 anggota DPR RI adalah Pengusaha. Sementara itu, Sebagian besar posisi strategis kabinet dikuasai oleh para pebisnis. Mereka adalah  Mekno Kemaritiman dan investasi Luhut B Panjaitan yg juga seringkali dijuluki menteri super, menteri BUMN Erik Tohir, menteri pertahanan Prabowo Subianto, menko  perekonomian Erlangga Hartato, menteri Kelautan perikanan Edhi Prabowo & terakhir adalah menteri pariwisata & ekonomi kreatif Wisnu Tama. #BRI

Disisi lain RUU tersebut juga mendapat penolakan lebih dari 200 akademisi. Menurut Prof. Susi Dwi Harijanti, Dilihat dari perspektif hukum ada 2 hal yang patut di soroti dalam pembentukan RUU tersebut. yaitu dari prosedur pembentukannya & substansinya. 



Dalam UU no 12 tahun 2011 zunto UU no 15 tahun 2019 disitu diatur mengenai tahapan-tahapan dan prosedur pembentukan UU. mulai dari perencanaan, perancangan, pembahasan, pengesahan dan pengundangan. Kemudian juga UU tersebut mengatur Azas-azas tentang pembentukan & materi muatan. 

lebih lanjut ia mengatakan salah satu azas terpenting yaitu  partisipasi publik, dalam hal ini partisipasi publik tidak terbuka dan kelihatan di tutupi.

UU itu adalah cara rakyat untuk menentukan bagaimana negara ini di selenggarakan oleh pimpinan. jadi harus dilihat sebagai cara rakyat jangan semata-mata dilihat bahwa UU ini hanyalah produk dari pembentuk UU yang notabene adalah lembaga politik.
"Salus Populi Suprema Lex Esto" keselamatan masyarakat keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.. Pungkasnya yang juga Guru Besar UNPAD tersebut. #BRI




Jumat, 09 Oktober 2020

Kisah Serigala yang Beriman kepada Rasulullah SAW



 BaroqahNews.com, POPAYATO -- Kisah ini terjadi pada masa kenabian Rasulullah Muhammad SAW. Di suatu daerah, hiduplah seorang gembala kambing. Dia mengurus ratusan kambing dan domba. Setiap pagi, pria itu membawa seluruh hewan ternak yang diamanati kepadanya ke padang rumput, dekat oasis.

Suatu hari, gembala tersebut kecolongan. Seekor serigala berhasil menerkam seekor domba yang lepas dari kerumunan. Dia pun segera mengejar serigala tadi dan menakut-nakutinya dengan ayunan tongkat.

Domba yang menjadi buruan itu bertubuh gemuk, sehingga hewan karnivora ini kesulitan membawanya kabur. Sang gembala pun menarik paksa domba tersebut dari cengkeraman serigala.

"Wahai fulan, mengapa engkau begitu zalim? Allah telah menetapkan domba itu sebagai rezekiku untuk hari ini, mengapa engkau merebutnya dariku?" ujar serigala itu kemudian.

Betapa terkejutnya pria ini ketika mendengar serigala itu bertutur kata kepadanya. "Kamu... Bisa bicara!?" katanya takjub.

"Mengapa engkau melihatku terheran-heran? Harusnya engkau tahu, ada yang lebih mengherankan daripada seekor serigala bisa berbicara," kata hewan itu.

"Apa itu?"

"Di Madinah, ada seorang nabi dan rasul yang Allah utus untuk sekalian alam. Namun, banyak orang yang justru membangkang dan enggan beriman kepadanya. Nama nabi itu, Rasulullah Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam," papar serigala.

Keesokan harinya, gembala itu bertekad pergi ke Madinah, untuk menjumpai langsung sosok yang diceritakan serigala tadi. Perjalanan yang tidak mudah dia tempuh dengan penuh kesabaran.

Akhirnya, sampailah dia ke Madinah. Sesudah bertanya pada sejumlah warga setempat, gembala ini tiba di depan Masjid Nabawi.

Singkat cerita, dia berkesempatan bertemu Nabi Muhammad SAW. Kepada beliau, dia pun menuturkan kisahnya hingga sampai di Madinah.

Rasulullah SAW membenarkan kisah gembala tersebut. Artinya, beliau tidak heran ada seekor binatang yang terang-terangan menunjukkan rasa imannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Lebih lanjut, hal itu ternyata termasuk tanda kian dekatnya Hari Akhir.

"Yang demikian itu adalah salah satu tanda kiamat," sabda beliau.

Kisah ini termaktub dalam hadis riwayat dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri, serta Imam Ahmad. Pakar tafsir Ibnu Katsir menilai sanadnya sahih.

SYUKUR & ISTIGHFAR..

Baroqah.com. Popayato. Surah terakhir yang Allah turunkan kepada Rasulullah SAW adalah surah an-Nashr. Surah tersebut diturunkan di Madinah....